Warisan Keteladanan Hoegeng: Pesan Terakhir Eyang Meri untuk Polri dan Refleksi Integritas

Dalam sebuah ruang hening di kediaman sederhana di Depok, Jawa Barat, Selasa (3/2/2026) malam itu, bukan hanya duka yang mengalir. Ada sebuah amanat yang terasa lebih berat dari sekadar ucapan belasungkawa. Kapolri Jenderal Listyo Sigit, bersama jajaran pimpinan Polri, bukan sekadar datang untuk melayat. Mereka hadir untuk menerima kembali sebuah tongkat estafet nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh seorang perempuan luar biasa, Meriyati Hoegeng, atau yang akrab disapa Eyang Meri. Kepergiannya di usia 100 tahun bukanlah akhir dari sebuah kisah, melainkan pengingat akan sebuah janji yang harus terus dipegang teguh oleh institusi berjubah biru.
Pertemuan terakhir antara Kapolri dan Eyang Meri, yang terjadi tidak lama sebelum wafatnya, ternyata meninggalkan kesan mendalam. Bukan sekadar obrolan santai, melainkan sebuah penitipan resmi. "Jaga dan titip Polri," begitu pesan singkat nan padat yang diamanatkan. Kalimat itu, bagi Listyo Sigit, bagai kompas di tengah lautan tantangan penegakan hukum saat ini. Ia mengakui hubungan dekat dan komunikasi intens yang terjalin, di mana Eyang Meri kerap menyampaikan pesan-pesan keteladanan mendiang suaminya, Hoegeng Iman Santoso, sebagai spirit untuk menjaga marwah kepolisian.
Lebih dari Sekadar Kenangan: Pesan yang Menjadi Pedoman
Bagi yang mengikuti dinamika Polri, nama Hoegeng Iman Santoso bukanlah sekadar nama mantan Kapolri. Ia adalah simbol integritas yang sering dijadikan tolok ukur. Menariknya, melalui Meriyati Hoegeng, nilai-nilai itu tetap hidup dan disuarakan. Listyo Sigit bercerita, bahkan di usia senjanya, Eyang Meri aktif menyampaikan pesan. Saat ulang tahunnya yang ke-100 pada Juni 2025, atau pada momen-momen penting seperti HUT Polri, selalu ada pesan khusus yang dikirimkannya. Pesan-pesan itu, menurut Kapolri, bukanlah nasihat biasa. Itu adalah kristalisasi pengalaman panjang mendampingi seorang pemimpin yang dikenal ‘clean’. "Hal-hal tersebut beliau selalu sampaikan dan itu menjadi pesan yang sangat berarti, menjadi semangat bagi kami untuk menjaga institusi," tutur Listyo, seperti dikutip dari pernyataannya di kediaman duka.
Opini penulis: Di tengah era di mana kepercayaan publik terhadap institusi sering diuji, figur seperti Meriyati Hoegeng berperan sebagai ‘moral guardian’ yang unik. Ia adalah jembatan hidup antara nilai-nilai klasik kepolisian yang idealis dengan realitas kepemimpinan modern. Kehadirannya mengingatkan bahwa integritas bukan warisan mati, tapi tradisi yang harus aktif diteruskan. Data dari survei internal beberapa lembaga riset (2024) menunjukkan, narasi keteladanan figur sejarah seperti Hoegeng masih memiliki daya pikat dan kekuatan persuasif yang tinggi dalam membangun etos kerja di tubuh institusi negara, melebihi sekadar peraturan atau imbauan formal.
Proses Kepergian dan Wasiat Terakhir yang Menyentuh
Aditya S Hoegeng, anak almarhumah, dengan tenang menuturkan perjalanan terakhir ibunya. Meriyati sempat dua kali menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Perawatan pertama pada Oktober 2025 berlangsung sekitar seminggu. Setelah sempat pulang, kondisi yang menurun membuat keluarga membawanya kembali pada 26 Januari 2026. "Kondisinya terus menurun," kata Aditya. Pada Selasa siang, 3 Februari 2026, pukul 13.20 WIB, Meriyati Hoegeng menghembuskan napas terakhir di usia satu abad.
Ada detail yang membuat hati terenyuh dari wasiat pemakamannya. Jenazah Eyang Meri akan dimakamkan di TPBU Giri Tama Tonjong, Kabupaten Bogor, bersebelahan dengan makam suaminya, Hoegeng Iman Santoso. Keputusan ini berasal dari permintaan Hoegeng sendiri semasa hidup. "Kesan Bapak adalah kalau saya di makam pahlawan, ibumu tidak bisa ada di sebelah saya, karena jatahnya kan cuma untuk almarhum," jelas Aditya menirukan ayahnya. Pilihan ini berbicara banyak tentang kesederhanaan dan komitmen pada keluarga, nilai yang tampaknya juga ingin ditanamkan pada institusi yang pernah dipimpinnya.
Implikasi bagi Polri: Menjaga Amanat di Tengah Zaman yang Berubah
Kepergian Meriyati Hoegeng meninggalkan ruang kosong bagi Polri. Bukan ruang fisik, tapi ruang penasehat moral informal yang kritis namun penuh kasih. Listyo Sigit menyadari betul hal ini. Dalam pernyataannya, ia berkomitmen untuk menjaga wasiat dan pesan-pesan Eyang Meri. "Kami akan menjaga apa yang menjadi wasiat beliau... untuk terus menjaga integritas menjaga institusi Polri," tegasnya. Komitmen ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam konteks kepemimpinan Polri yang terus berganti, konsistensi menjaga nilai inti seperti integritas, profesionalisme, dan kedekatan dengan rakyat adalah tantangan besar.
Pesan ‘jaga dan titip Polri’ harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Mulai dari pemberantasan korupsi internal, penegakan hukum yang berkeadilan tanpa pandang bulu, hingga pelayanan publik yang manusiawi. Eyang Meri, melalui pesan-pesannya, seolah mengingatkan bahwa badge Polri bukanlah simbol kekuasaan, tapi amanah rakyat. Di tangan Kapolri sekarang dan yang akan datang, amanat ini harus diteruskan sebagai living legacy, bukan sekadar kenangan di museum.
Refleksi Akhir: Keteladanan yang Tidak Pernah Usang
Sebagai penutup, ada sebuah pertanyaan reflektif yang patut kita ajukan bersama: Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh godaan, apakah keteladanan dari masa lalu seperti yang diwakili Hoegeng dan disuarakan oleh Meriyati masih relevan? Jawabannya, justru semakin relevan. Ketika teknologi maju dan metode kejahatan berkembang, nilai-nilai dasar seperti kejujuran, keberanian, dan kesederhanaan adalah fondasi yang tidak boleh terganti. Kepergian Meriyati Hoegeng adalah pengingat bahwa penjaga nilai-nilai itu bisa datang dari mana saja, bahkan dari seorang ibu dan istri yang dengan setia menjaga api semangat suaminya.
Polri, dan sebenarnya kita semua sebagai bangsa, kehilangan seorang ‘penjaga memori’ dan ‘penyambung nilai’. Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa pesan-pesan itu tidak ikut terkubur. Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik tolak untuk merefleksikan kembali komitmen pada integritas, bukan hanya di institusi kepolisian, tapi dalam setiap aspek kehidupan berbangsa. Sebab, pada akhirnya, warisan terbaik bukanlah harta atau jabatan, melainkan keteladanan yang terus menyala, menerangi jalan generasi penerus. Seperti api yang dijaga oleh Meriyati Hoegeng selama puluhan tahun, kini telah berpindah tangan. Apakah kita siap untuk menjaganya tetap menyala?











