Ketika Sumatera Tenggelam: Refleksi atas Krisis Iklim yang Semakin Nyata di Depan Mata

Bayangkan bangun di pagi hari dan mendapati jalan depan rumah sudah berubah menjadi sungai. Air yang biasanya mengalir tenang di selokan kini meluap dengan kekuatan yang menggerus fondasi rumah, menyapu segala yang dilewatinya. Itulah kenyataan pahit yang dialami ribuan warga di berbagai penjuru Sumatera beberapa waktu lalu. Bukan sekadar banjir musiman yang datang dan pergi, melainkan sebuah peristiwa yang terasa seperti adegan dari film bencana yang tiba-tiba menjadi nyata. Apa yang sebenarnya terjadi di pulau yang dikenal dengan kekayaan alamnya ini?
Jika kita jujur, peristiwa ini seharusnya tidak mengejutkan. Selama bertahun-tahun, tanda-tanda peringatan sudah bermunculan seperti bisikan yang semakin keras. Hutan yang menipis, sungai yang menyempit, dan pola cuaca yang semakin tak terduga. Banjir besar yang melanda Sumatera Utara, Aceh, hingga Sumatera Barat pada penghujung 2025 bukanlah titik awal, melainkan klimaks dari sebuah proses panjang yang sering kita abaikan. Ini lebih dari sekadar persoalan curah hujan tinggi atau drainase yang buruk—ini tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat, telah memperlakukan lanskap alam yang seharusnya melindungi kita.
Membaca Jejak Kritis di Balik Genangan Air
Mari kita lihat lebih dalam. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan peningkatan signifikan kejadian hujan ekstrem di wilayah Sumatera dalam dekade terakhir. Yang menarik—dan cukup mengkhawatirkan—adalah bahwa intensitas hujan yang sama tidak selalu menghasilkan dampak banjir yang sama beberapa tahun lalu. Artinya, ada faktor lain yang memperburuk situasi. Sebuah studi dari lembaga penelitian lingkungan pada 2024 menemukan bahwa kapasitas resapan air di beberapa daerah rawan banjir di Sumatera telah berkurang hampir 40% dalam 15 tahun terakhir. Angka itu bukan sekadar statistik; itu mewakili hilangnya ruang bagi air untuk 'bernapas' dan diserap tanah.
Di Medan, misalnya, perkembangan permukiman dan kawasan industri yang masif tanpa diimbangi dengan ruang terbuka hijau yang memadai telah mengubah karakteristik hidrologis wilayah tersebut. Daerah yang dulu berfungsi sebagai 'spons' alami kini tertutup beton dan aspal. Ketika hujan datang, air tidak punya tempat untuk meresap—ia hanya mengalir deras mencari tempat terendah, yang seringkali adalah pemukiman warga. Fenomena serupa terjadi di Banda Aceh dan Padang, di mana tekanan pembangunan terkadang mengabaikan prinsip-prinsip tata ruang yang ramah lingkungan.
Dampak Berlapis yang Jarang Terungkap
Kerusakan infrastruktur dan gangguan aktivitas ekonomi memang menjadi berita utama. Tapi ada dampak lain yang lebih halus namun tak kalah serius. Seorang petani di Deli Serdang bercerita bagaimana banjir tidak hanya merusak tanaman musim itu, tetapi juga mengubah struktur tanah di lahannya. "Tanah jadi keras dan kurang subur setelah terendam lama," katanya. Ini adalah kerugian jangka panjang yang jarang masuk dalam perhitungan kerusakan.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, genangan air yang berkepanjangan menciptakan kondisi ideal untuk berkembangnya vektor penyakit. Kasus demam berdarah dan infeksi kulit meningkat signifikan pasca banjir di beberapa daerah. Belum lagi tekanan psikologis yang dialami korban—rasa tidak aman, kecemasan akan terulangnya bencana, dan trauma kehilangan harta benda. Dampak ini seperti riak yang terus meluas, menyentuh aspek kehidupan yang paling dasar.
Mitigasi: Antara Teknologi dan Kearifan Lokal
Sistem peringatan dini yang canggih tentu penting. Tapi teknologi saja tidak cukup. Di beberapa komunitas di Sumatera Barat, masyarakat mulai menghidupkan kembali praktik lama seperti mempertahankan 'lubuk larangan'—bagian sungai yang dilindungi dan berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem perairan. Di Aceh, ada gerakan penanaman pohon jenis tertentu di bantaran sungai yang akarnya mampu menstabilkan tanah dan menyerap air lebih baik.
Pendekatan yang menarik justru datang dari kolaborasi antara pengetahuan modern dan kearifan tradisional. Di Kabupaten Langkat, misalnya, pemetaan daerah rawan banjir menggunakan drone dikombinasikan dengan pengetahuan tetua adat tentang pola aliran air di masa lalu. Hasilnya adalah rekomendasi tata ruang yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa solusi tidak harus selalu datang dari luar—seringkali jawabannya sudah ada di sekitar kita, tinggal bagaimana kita mau mendengarkan dan mengadaptasinya.
Opini: Kita Semua adalah Bagian dari Solusi—dan Masalah
Di sini saya ingin menyampaikan pandangan pribadi. Terlalu mudah menyalahkan pemerintah atau perubahan iklim global sebagai satu-satunya penyebab. Realitanya, setiap keputusan kita sebagai individu dan masyarakat turut berkontribusi pada kondisi saat ini. Pilihan kita untuk menggunakan plastik sekali pakai, ketidakpedulian terhadap pembuangan sampah sembarangan, bahkan preferensi kita terhadap properti di daerah yang seharusnya menjadi daerah resapan—semuanya adalah bagian dari puzzle yang membentuk gambaran besar ini.
Data yang cukup mengejutkan berasal dari survei perilaku lingkungan di kota-kota besar Sumatera. Hanya 34% responden yang secara aktif mempertimbangkan aspek lingkungan dalam keputusan konsumsi sehari-hari. Padahal, akumulasi dari pilihan-pilihan kecil inilah yang pada akhirnya membentuk tekanan terhadap ekosistem. Perubahan iklim memang fenomena global, tetapi respons terhadapnya harus dimulai dari tindakan lokal—bahkan sangat personal.
Menatap ke Depan dengan Mata Terbuka
Banjir di Sumatera seharusnya menjadi titik balik kesadaran kolektif. Bukan hanya tentang membangun tanggul yang lebih tinggi atau pompa yang lebih kuat, tetapi tentang merekonstruksi hubungan kita dengan alam. Kita perlu bertanya: Apakah model pembangunan yang kita anut selama ini masih layak dipertahankan? Bagaimana kita bisa menciptakan sistem yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga ketahanan ekologis?
Beberapa inisiatif mulai bermunculan. Di tingkat komunitas, ada gerakan 'satu rumah satu biopori' yang mendorong setiap rumah tangga membuat lubang resapan di pekarangannya. Di tingkat kebijakan, beberapa pemerintah daerah mulai memasukkan parameter ketahanan iklim dalam peraturan tata ruang. Ini adalah langkah kecil, tetapi arahnya tepat.
Pada akhirnya, banjir ini mengajarkan kita pelajaran yang mahal: bahwa alam tidak pernah berbohong. Ia merespons setiap tindakan kita dengan konsekuensi yang nyata. Mungkin inilah saatnya kita tidak lagi memandang lingkungan sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi, tetapi sebagai mitra yang harus dijaga keseimbangannya. Karena ketika Sumatera tenggelam, sebenarnya yang sedang diuji bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi fondasi keberadaban kita sendiri. Pertanyaannya sekarang: Sudah siapkah kita mengubah cara berpikir dan bertindak sebelum gelombang berikutnya datang?











