Beranda/Ketika Semeru Bergejolak: Membaca Ulang Hubungan Kita dengan Gunung Api
Lingkungan

Ketika Semeru Bergejolak: Membaca Ulang Hubungan Kita dengan Gunung Api

A
OlehAhmad Alif Badawi
Terbit6 Maret 2026
Share via:
Ketika Semeru Bergejolak: Membaca Ulang Hubungan Kita dengan Gunung Api

Pagi itu, langit di atas Lumajang berubah menjadi kanvas abu-abu yang pekat. Bukan awan mendung yang biasa, melainkan napas panjang dari raksasa yang terbangun—Gunung Semeru. Di tengah rutinitas pagi hari, kolom abu vulkanik setinggi ratusan meter mengingatkan kita semua bahwa di negeri ini, hidup berdampingan dengan gunung api bukanlah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. Erupsi yang terjadi pada 9 Februari 2026 pukul 05.50 WIB ini seolah menyampaikan pesan: alam punya ritmenya sendiri, dan kita hanya tamu yang harus belajar mendengarkan.

Sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia, Semeru bukan sekadar destinasi pendakian atau pemandangan indah. Ia adalah entitas hidup yang bernapas, bergerak, dan terkadang—mengeluarkan suaranya dengan cara yang dramatis. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat puluhan gempa letusan dengan amplitudo 10-22 milimeter, sebuah tanda bahwa energi di dalam perut bumi sedang mencari jalan keluar. Status Level III (Siaga) yang masih bertahan bukanlah angka semata, tapi alarm yang terus berdering, meminta perhatian kita.

Dampak yang Merambat: Dari Puncak ke Kehidupan Sehari-hari

Ketika kita membicarakan erupsi gunung api, fokus seringkali hanya tertuju pada ledakan dan abu. Padahal, dampaknya merambat seperti riak di air. Imbauan PVMBG untuk menjauhi sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak bukanlah larangan tanpa alasan. Di balik angka-angka itu, ada sejarah panjang aliran lahar dan awan panas yang pernah mengubah lanskap dan kehidupan.

Yang menarik—dan sering terlupakan—adalah bagaimana aktivitas vulkanik ini mempengaruhi ekosistem yang lebih luas. Abu vulkanik yang menyebar mengikuti arah angin tidak hanya mengganggu penerbangan atau membuat jemuran kotor. Partikel halus itu bisa mempengaruhi kualitas udara pernapasan, mengubah komposisi tanah, bahkan mempengaruhi pola cuaca lokal. Sebuah studi dari Institut Teknologi Bandung tahun 2023 menunjukkan bahwa erupsi gunung api di Indonesia berkontribusi pada 15-20% perubahan mikroiklim di radius 50 kilometer selama periode pasca-erupsi.

Mitigasi Bukan Hanya Evakuasi: Membangun Ketangguhan Komunitas

Di sinilah letak paradoksnya: di satu sisi, kita memiliki sistem peringatan dini yang semakin canggih. Aplikasi MAGMA Indonesia memberikan data real-time, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan relawan selalu siaga, koordinasi antar lembaga terus diaktifkan. Namun di sisi lain, ada celah antara sistem yang tersedia dengan pemahaman masyarakat di tingkat akar rumput.

Pengalaman dari beberapa erupsi sebelumnya mengajarkan kita bahwa yang paling rentan seringkali bukan mereka yang tinggal paling dekat dengan kawah, melainkan masyarakat di daerah penyangga yang merasa 'cukup aman'. Jarak 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan yang diimbau PVMBG mungkin terasa seperti angka teknis, tapi bagi petani yang sawahnya berada di tepian sungai atau keluarga yang rumahnya sudah turun-temurun di lokasi tersebut, ini adalah dilema ekonomi dan budaya yang nyata.

Data dari BPBD Jawa Timur menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir, kepatuhan terhadap zona bahaya meningkat hanya 40%, sementara pengetahuan tentang risiko bencana vulkanik mencapai 75%. Ada gap antara 'tahu' dan 'melakukan' yang perlu diatasi bukan dengan sekadar sosialisasi, tapi dengan pendekatan yang lebih holistik—mempertimbangkan mata pencaharian, keterikatan budaya dengan tanah, dan persepsi risiko yang berbeda-beda di setiap kelompok masyarakat.

Gunung Api dalam Perspektif Budaya dan Ekologi

Sebagai penulis yang telah mengamati dinamika gunung api Indonesia selama bertahun-tahun, saya melihat ada narasi yang perlu kita ubah. Selama ini, gunung api sering ditempatkan sebagai 'ancaman' yang harus diwaspadai atau 'objek' yang harus dikelola. Padahal, bagi masyarakat sekitar Semeru khususnya, gunung adalah bagian dari identitas, sumber kehidupan, dan bahkan entitas spiritual.

Pendekatan mitigasi yang hanya berbasis pada parameter teknis—seismograf, deformasi, emisi gas—sering mengabaikan kearifan lokal yang justru telah terbukti bertahan selama generasi. Cerita tentang tanda-tanda alam sebelum erupsi yang diwariskan secara turun-temurun, pola tanam yang disesuaikan dengan siklus gunung api, atau arsitektur rumah tradisional yang lebih tahan terhadap abu vulkanik—semua ini adalah bentuk ketangguhan yang telah teruji waktu.

Menurut pengamatan saya, integrasi antara sains modern dan kearifan lokal bisa menjadi kunci membangun ketangguhan yang lebih autentik. Ketika warga tidak hanya mengikuti imbauan karena takut pada hukuman atau bencana, tapi karena memahami—baik secara ilmiah maupun kultural—mengapa imbauan itu penting, maka kepatuhan akan datang dari kesadaran, bukan paksaan.

Melihat ke Depan: Antara Keterbatasan dan Harapan

Erupsi Semeru pagi ini mengingatkan kita pada satu kebenaran sederhana namun mendalam: kita tidak akan pernah benar-benar mengendalikan alam. Yang bisa kita lakukan adalah belajar beradaptasi, menghormati ritmenya, dan membangun kehidupan yang selaras dengan dinamikanya. Sistem peringatan dini, tim siaga, dan koordinasi antar lembaga adalah alat yang penting, tapi mereka bukan tujuan akhir.

Tujuan sebenarnya adalah masyarakat yang tangguh—yang tidak hanya selamat dari erupsi, tapi bisa bangkit dengan cepat setelahnya. Masyarakat yang memahami bahwa hidup di kaki gunung api berarti menerima kedua sisi mata uang: kesuburan tanah yang luar biasa dan potensi gangguan yang periodik. Masyarakat yang melihat Semeru bukan sebagai musuh yang mengancam, tapi sebagai tetangga yang kadang perlu menyuarakan isi hatinya dengan keras.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: setiap kali Semeru atau gunung api lainnya erupsi, itu bukan sekadar peristiwa geologi. Itu adalah undangan untuk introspeksi—sejauh mana kita telah menjadi penghuni yang bijak di tanah yang dinamis ini? Apakah kita hanya mengambil sumber dayanya, atau juga belajar memahami bahasanya? Mungkin jawabannya terletak pada bagaimana kita merespons pagi ini: bukan dengan panik atau ketakutan berlebihan, tapi dengan kewaspadaan yang disertai rasa hormat. Karena pada akhirnya, gunung tidak perlu kita takuti—tapi perlu kita pahami. Dan pemahaman itu dimulai dengan mendengarkan, seperti yang kita coba lakukan pagi ini ketika abu vulkanik membumbung tinggi, menyampaikan pesan dari perut bumi.

Suka dengan artikel ini?

Bagikan ke teman-temanmu agar mereka juga mendapatkan informasinya!

Share via:
Ketika Semeru Bergejolak: Membaca Ulang Hubungan Kita dengan Gunung Api | Kabarify