Ketika Doa-Doa Damai Bergema di Antara Batu Kuno: Refleksi atas Zikir Akbar di Prambanan

Bayangkan sebuah sore di Yogyakarta. Matahari mulai merendah, menyinari puncak-puncak candi yang menjulang dengan megah. Suasana yang biasanya diisi oleh gemerisik wisatawan dan suara pemandu, tiba-tiba berganti. Ribuan suara manusia, dengan irama yang sama, melantunkan kalimat-kalimat zikir. Mereka tidak berada di dalam masjid atau musala, melainkan di pelataran terbuka salah satu situs warisan dunia tertua di Indonesia. Inilah pemandangan yang terjadi belum lama ini, sebuah peristiwa yang jauh lebih kompleks daripada sekadar ‘acara keagamaan’. Ia adalah sebuah kanvas besar tempat nilai-nilai spiritual, budaya, dan sosial bertemu, berdesakan, dan saling berbicara.
Sebagai penikmat sejarah dan pengamat dinamika sosial, saya melihat momen ini bukan sebagai titik akhir, melainkan sebuah pembuka dialog. Apa sebenarnya yang terjadi ketika ribuan orang memilih sebuah candi Hindu sebagai lokasi untuk sebuah ibadah massal berunsur Islam? Di balik liputan media yang seringkali hitam-putih, tersimpan lapisan makna, harapan, dan juga pertanyaan yang perlu kita gali bersama. Peristiwa ini adalah cermin dari Indonesia yang sedang mencari bentuk, berusaha mendamaikan berbagai identitasnya di ruang-ruang yang sarat sejarah.
Lokasi Bukan Kebetulan: Membaca Makna di Balik Pilihan Situs
Pemilihan Candi Prambanan sebagai lokasi zikir akbar jelas sebuah pernyataan. Ini adalah langkah simbolis yang sangat kuat. Menurut data dari Badan Pusat Statistik DIY, kunjungan wisatawan ke Prambanan didominasi oleh tujuan budaya dan edukasi. Kehadiran acara keagamaan skala besar seperti ini secara statistik menggeser persepsi fungsi ruang tersebut, meski hanya untuk sementara. Dari sudut pandang sosiologi agama, pemilihan situs warisan dunia yang notabene bukan tempat ibadah agama tertentu, bisa dibaca sebagai upaya ‘mendesakralisasi’ sekaligus ‘meresakralisasi’ ruang. Ruang tersebut didesakralisasi dari fungsi tunggalnya sebagai museum hidup arsitektur Hindu, lalu diresakralisasi sebagai wadah doa bersama lintas identitas.
Panitia, seperti dilaporkan, menyebut ini sebagai simbol toleransi. Namun, di sini kita perlu melihat lebih jernih. Simbolisme bekerja dua arah. Di satu sisi, ia bisa menjadi perekat yang menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan. Di sisi lain, dalam konteks masyarakat yang masih rentan dengan isu sensitif, ia juga berpotensi dibaca sebagai klaim atau ‘penguasaan’ simbolis atas sebuah ruang budaya. Nuansa inilah yang sering terlewat dalam pemberitaan sederhana. Keberhasilan acara ini, dari sisi keamanan dan ketertiban, patut diapresiasi. Tapi, keberhasilan yang lebih subtil—yaitu apakah pesan inklusifnya benar-benar terserap oleh seluruh lapisan masyarakat—masih perlu waktu untuk diukur.
Antara Harmoni dan Kecemasan: Respons Publik yang Terbelah
Respons masyarakat, seperti yang tersirat dalam laporan, memang terbelah. Ini wajar dan justru menunjukkan bahwa masyarakat kita semakin kritis dalam memandang interaksi antara agama, budaya, dan ruang publik. Kelompok yang mendukung melihat ini sebagai ekspresi spiritual yang damai dan doa tulus untuk bangsa. Mereka melihat nilai universal dari zikir dan doa bersama, yang melampaui batas-batas sektarian.
Di sisi lain, kekhawatiran dari sebagian masyarakat, termasuk para pegiat budaya dan sejarah, tidak bisa serta-merta dicap sebagai intoleran. Kekhawatiran mereka seringkali bersifat teknis dan konservasi: tentang dampak fisik terhadap situs yang rapuh, tentang menjaga narasi utama Prambanan sebagai warisan peradaban Hindu-Buddha Nusantara untuk pendidikan generasi mendatang, dan tentang preseden penggunaan situs bersejarah untuk agenda-agenda tertentu. Kekhawatiran ini sah dan justru menunjukkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap warisan bangsa. Konflik yang sesungguhnya bukan antara ‘agama’ dan ‘budaya’, melainkan antara ‘penggunaan ruang’ dan ‘pelestarian makna’.
Dampak Jangka Panjang: Mencetak Preseden atau Membuka Pintu Dialog?
Di sinilah letak implikasi terbesar dari peristiwa ini. Acara ini telah usai, aman, dan tertib. Tapi gelombang pemikirannya baru dimulai. Pertanyaan besarnya adalah: apakah acara seperti ini akan menjadi preseden untuk penggunaan situs budaya serupa di masa depan? Jika iya, bagaimana kerangka aturannya? Haruskah ada pedoman yang jelas dan inklusif, yang melibatkan tidak hanya pemerintah dan pengelola, tetapi juga perwakilan dari berbagai komunitas agama, adat, dan pegiat budaya?
Data dari UNESCO sendiri menunjukkan bahwa manajemen situs warisan dunia di era modern menghadapi tantangan baru, yaitu menyeimbangkan antara akses publik, pelestarian fisik, dan penghormatan terhadap nilai-nilai intangible (tak benda) yang melekat padanya. Peristiwa di Prambanan adalah kasus studi yang nyata. Keberhasilannya dari sisi logistik dan keamanan bisa menjadi modal untuk membangun dialog yang lebih terstruktur. Kita perlu membicarakan secara terbuka: ruang publik seperti apa yang kita inginkan? Bagaimana kita merayakan keragaman tanpa mengaburkan atau menggeser makna sejarah dari sebuah tempat?
Sebuah Refleksi Akhir: Merawat Indonesia yang Rumit dan Indah
Pada akhirnya, sorotan pada zikir akbar di Prambanan mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan merenung. Indonesia kita ini rumit, penuh dengan lapisan sejarah, keyakinan, dan identitas yang saling tumpang-tindih. Peristiwa-peristiwa seperti ini menguji sekaligus memperkuat jahitan kebangsaan kita. Ia menguji apakah kita mampu melihat di luar dikotomi ‘pro’ dan ‘kontra’, dan masuk ke wilayah pemahaman yang lebih empatik.
Mungkin, pelajaran terpenting bukanlah pada apakah acara itu ‘benar’ atau ‘salah’ dilaksanakan di sana. Melainkan, apakah kita sebagai bangsa bisa mengambil momentum ini untuk bercakap-cakap lebih dalam. Bercakap tentang bagaimana menghormati ibadah tanpa mengabaikan pelestarian warisan. Tentang bagaimana merayakan spiritualitas tanpa merasa perlu ‘mengklaim’ ruang. Tentang bagaimana doa-doa untuk perdamaian itu sendiri lahir dari proses yang damai, inklusif, dan penuh kesadaran akan kompleksitas yang ada di sekitar kita. Candi Prambanan telah berdiri selama berabad-abad, menyaksikan kerajaan datang dan pergi. Kini, ia menyaksikan sebuah bangsa berusaha menemukan nadinya sendiri di tengah gemuruh zaman. Semoga dari antara batu-batu kuno itu, lahir bukan hanya gema zikir, tetapi juga gema kebijaksanaan kolektif kita.











