Ketika Air Tak Lagi Jadi Teman: Refleksi Dampak Banjir Jati Agung yang Mengubah Hidup Warga

Bayangkan, dalam hitungan jam, rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung, tiba-tiba berubah menjadi perangkap berair. Lantai yang biasa dipijak hilang, digantikan oleh genangan yang terus naik, mendorong penghuninya naik ke atap, menunggu pertolongan di tengah gelap dan dinginnya malam. Ini bukan adegan film bencana, tapi realitas pahit yang dialami warga di beberapa titik di Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, pada suatu Jumat malam. Peristiwa ini bukan sekadar soal air yang datang dan pergi, melainkan sebuah cermin retak yang memantulkan betapa rapuhnya kehidupan modern ketika berhadapan dengan alam yang murka.
Dari Rumah ke Atap: Kronologi Sebuah Pelarian
Semuanya berawal dari hujan yang turun dengan intensitas tinggi, sebuah fenomena yang mungkin dianggap biasa di musim penghujan. Namun, kali ini berbeda. Sekitar pukul lima sore lebih, laporan pertama mulai berdatangan. Air tidak hanya menggenangi jalan, tetapi dengan agresif menerobos masuk ke dalam rumah-rumah warga. Yang menjadi titik kritis adalah jebolnya sebuah tanggul saluran air di kawasan perumahan. Runtuhnya struktur pembatas ini ibarat membuka keran raksasa, mengalirkan volume air yang masif ke permukiman di sekitarnya seperti Gedung Harapan, Fajar Baru, Permata Asri, dan Karang Anyar.
Evakuasi dengan perahu karet pun menjadi pemandangan yang tak terhindarkan. Tim gabungan yang terdiri dari petugas Damkar, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan berlomba dengan waktu. Mereka bukan hanya menyelamatkan orang dari lantai dasar, tetapi harus menjangkau warga yang sudah terpaksa naik ke atap rumah mereka karena ketinggian air yang dalam beberapa titik menyamai tinggi badan orang dewasa, bahkan lebih. Lansia yang rentan, ibu-ibu yang panik, dan balita yang kedinginan menjadi prioritas utama dalam operasi penyelamatan yang berlangsung hingga larut malam itu.
Data di Balik Genangan: Sebuah Perspektif yang Sering Terabaikan
Jika kita melihat peta sebaran lokasi yang terdampak—Gedung 99, Diamond, Deferoz, Citra Alam, Way Huwi, hingga Marga Agung—ada pola menarik yang muncul. Banyak dari kawasan ini adalah kawasan permukiman yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah laporan dari Pusat Studi Bencana Universitas Lampung pada 2024 silam pernah mengingatkan tentang tingginya alih fungsi lahan dan berkurangnya daerah resapan di koridor Jati Agung menuju Kota Baru. Laporan itu menyebut, kapasitas drainase existing sudah tidak lagi memadai untuk menampung limpasan air dari kawasan permukiman baru yang padat.
Ini adalah data unik yang sering luput dari perbincangan saat bencana terjadi. Kita sibuk membahas evakuasi dan bantuan, namun jarang menyentuh akar masalah: tata ruang yang tidak ramah terhadap siklus air. Banjir di Jati Agung, menurut analisis sederhana, bukan semata-mata soal hujan deras atau tanggul jebol. Ia adalah gejala dari sebuah sistem yang sudah overload. Ketika lahan hijau berubah menjadi beton dan aspal, air hujan kehilangan tempat untuk meresap. Ia hanya punya satu pilihan: mengalir deras ke saluran yang sudah sempit, dan akhirnya meluap ke permukiman terdekat.
Dampak yang Berlapis: Lebih Dari Sekadar Basah
Dampak langsungnya terlihat jelas: puluhan keluarga harus mengungsi ke Masjid Al-Fatonah, harta benda terendam, dan aktivitas warga lumpuh total. Namun, ada dampak berlapis yang lebih dalam dan mungkin bertahan lebih lama. Trauma psikologis, terutama pada anak-anak dan lansia, adalah satu hal. Kerugian ekonomi tidak hanya dari barang yang rusak, tetapi juga dari hari-hari produktif yang hilang. Infrastruktur lokal seperti jalan dan saluran air pasti mengalami kerusakan yang membutuhkan biaya rehabilitasi tidak kecil.
Yang juga perlu dicermati adalah implikasi sosialnya. Banjir seperti ini seringkali memperlebar ketimpangan. Warga dengan sumber daya terbatas akan lebih sulit bangkit kembali dibandingkan mereka yang memiliki tabungan atau asuransi. Proses pemulihan pun tidak akan merata. Inilah mengapa respon bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat. Harus ada rencana yang komprehensif untuk fase pemulihan dan yang terpenting, pencegahan jangka panjang.
Sebuah Refleksi Akhir: Air Mengalir, Apa yang Kita Pelajari?
Ketika air banjir di Jati Agung surut nantinya, yang tertinggal bukan hanya lumpur dan puing. Akan tertinggal pula pertanyaan besar bagi kita semua, khususnya bagi para pengambil kebijakan dan perencana tata kota: Sudahkah kita belajar? Insiden ini seharusnya menjadi alarm keras. Membangun permukiman tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan sistem drainase yang memadai adalah resep menuju bencana yang berulang.
Mungkin inilah saatnya kita bergeser dari paradigma 'mengatasi banjir' menjadi 'berdamai dengan air'. Konsep kota sponge (sponge city) yang mengedepankan daerah resapan, biopori, sumur resapan, dan ruang terbuka hijau bukan lagi sekadar wacana, tapi sebuah kebutuhan mendesak. Solidaritas warga yang terlihat dalam pengungsian dan kerja sama tim evakuasi adalah cahaya di tengah bencana. Namun, solidaritas yang sama harus diarahkan untuk mendorong kebijakan pembangunan yang lebih bijak dan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, rumah yang aman bukan hanya yang kokoh di atas tanah, tapi juga yang berdiri di atas fondasi ekosistem yang sehat dan seimbang.











