Beranda/Jombang di Persimpangan: Ketika Sungai Berbicara, Bisakah Kita Mendengarnya?
Lingkungan

Jombang di Persimpangan: Ketika Sungai Berbicara, Bisakah Kita Mendengarnya?

s
Olehsalsa maelani
Terbit6 Maret 2026
Share via:
Jombang di Persimpangan: Ketika Sungai Berbicara, Bisakah Kita Mendengarnya?

Bayangkan Anda berdiri di tepi sebuah sungai di Jombang. Airnya tak lagi jernih, melainkan keruh dengan warna yang tak wajar. Bau tak sedap menyengat, dan ikan-ikan yang dulu melimpah kini hanya menjadi cerita. Ini bukan adegan dari film distopia, melainkan kenyataan yang dihadapi warga setiap hari. Sungai yang seharusnya menjadi nadi kehidupan, kini justru menjadi sumber kecemasan. Apa yang sebenarnya terjadi di balik penurunan kualitas air yang begitu drastis ini? Ternyata, jawabannya lebih kompleks dari sekadar limbah pabrik atau sampah rumah tangga.

Baru-baru ini, sebuah forum diskusi yang diinisiasi oleh komunitas literasi di Jombang membedah buku #ResetIndonesia, mengundang ratusan peserta dari berbagai latar belakang. Yang menarik, diskusi ini tidak terjebak pada pencarian 'kambing hitam', tetapi menggali lebih dalam ke akar masalah: ketimpangan struktural dalam kebijakan lingkungan. Seolah ada jurang lebar antara regulasi yang tertulis di atas kertas dengan implementasi di lapangan, antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan keberlanjutan ekologis jangka panjang.

Kebijakan yang Terfragmentasi: Masalah Utama di Balik Krisis

Jika kita telusuri lebih dalam, krisis air sungai di Jombang sebenarnya adalah gejala dari penyakit yang lebih sistemik. Menurut analisis yang muncul dalam diskusi, ada setidaknya tiga lapisan masalah yang saling bertaut. Pertama, kebijakan lingkungan seringkali dibuat secara sektoral, tanpa koordinasi yang solid antar dinas. Dinas Perindustrian fokus pada investasi, Dinas Lingkungan Hidup berjuang dengan kapasitas terbatas, sementara Dinas Pekerjaan Umum mengurusi infrastruktur tanpa selalu mempertimbangkan dampak ekologis menyeluruh.

Kedua, ada ketimpangan akses dalam proses pembuatan kebijakan itu sendiri. Suara masyarakat lokal, terutama mereka yang hidup langsung bergantung pada sungai—seperti petani, nelayan air tawar, dan komunitas pinggir sungai—seringkali tidak terdengar dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Padahal, merekalah yang merasakan langsung dampak dari setiap perubahan kualitas air. Ketiga, penegakan hukum yang lemah menciptakan budaya impunitas. Pelaku pencemar, baik industri maupun individu, seringkali hanya mendapat teguran atau denda simbolis yang tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan.

Data yang Mengkhawatirkan: Lebih dari Sekadar Angka

Sebuah studi independen yang dirilis awal tahun ini menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Dari 12 titik sampling di sungai-sungai utama di Jombang, 9 di antaranya memiliki kadar BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) yang melebihi baku mutu. Bahkan di beberapa titik, kadar logam berat seperti timbal (Pb) dan merkuri (Hg) sudah mencapai level yang berpotensi membahayakan kesehatan dalam jangka panjang. Yang lebih memprihatinkan, tren penurunan kualitas ini konsisten terjadi dalam lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa upaya yang ada selama ini tidak efektif menghentikan laju kerusakan.

Namun, data kuantitatif ini hanya sebagian cerita. Dampak sosial-ekonomi yang tidak terukur justru lebih dalam. Seorang nelayan air tawar dalam diskusi tersebut berbagi pengalaman pahit: "Dulu dalam sehari saya bisa mendapatkan 10-15 kg ikan. Sekarang, 2 kg pun sudah syukur. Banyak jenis ikan yang sudah hilang sama sekali." Cerita ini menggambarkan bagaimana degradasi lingkungan langsung meruntuhkan mata pencaharian dan mengancam ketahanan pangan lokal.

Opini: Kita Semua adalah Bagian dari Solusi

Di tengah kompleksitas masalah ini, saya melihat ada titik terang yang sering luput dari perhatian. Krisis lingkungan di Jombang—dan di banyak daerah lain—bukan semata-mata kegagalan pemerintah atau keserakahan industri. Ini juga mencerminkan kegagalan kita sebagai masyarakat dalam membangun hubungan yang sehat dengan alam. Kita terbiasa melihat sungai sebagai tempat pembuangan, bukan sebagai entitas hidup yang perlu dirawat. Pola konsumsi kita yang boros air dan menghasilkan banyak limbah turut berkontribusi pada beban yang ditanggung sungai-sungai kita.

Pendekatan teknokratis saja tidak akan cukup. Kita perlu mengembalikan dimensi kultural dalam pengelolaan sungai. Di banyak budaya Nusantara, sungai dianggap sakral, sebagai ibu yang memberikan kehidupan. Nilai-nilai kearifan lokal ini perlu dihidupkan kembali, bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai kerangka etis yang membimbing tindakan kita hari ini. Ketika kita mulai memandang sungai bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek yang memiliki hak untuk tetap sehat, maka kebijakan dan perilaku kita akan berubah.

Menuju Pemulihan: Langkah Konkret yang Bisa Dimulai dari Bawah

Diskusi publik di Jombang menghasilkan beberapa rekomendasi konkret yang menarik. Pertama, perlunya membentuk forum multi-pihak yang permanen, melibatkan pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil untuk memantau dan mengevaluasi kebijakan lingkungan secara berkala. Kedua, mendorong transparansi data kualitas air yang real-time dan mudah diakses publik, sehingga masyarakat bisa menjadi 'watchdog' yang efektif. Ketiga, mengembangkan model ekonomi sirkular di tingkat komunitas, di mana limbah diolah menjadi sumber daya, mengurangi beban pencemaran ke sungai.

Yang patut dicatat, beberapa komunitas sudah mulai bergerak. Komunitas pemuda di beberapa desa mulai melakukan pemantauan mandiri kualitas air, sementara kelompok ibu-ibu mengkampanyekan pengurangan sampah plastik dari rumah tangga. Inisiatif akar rumput ini, meski kecil, menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari mana saja.

Penutup: Mendengarkan Lembutnya Gemericik Sungai yang Berduka

Pada akhirnya, krisis air sungai di Jombang mengajarkan kita pelajaran penting tentang keterhubungan. Air yang tercemar di hulu akan berdampak pada kesehatan masyarakat di hilir. Kebijakan yang tidak adil hari ini akan membebani generasi mendatang. Dan ketidakpedulian kita sebagai individu berkontribusi pada akumulasi masalah sistemik.

Mari kita renungkan: ketika sungai kehilangan kemurniannya, apa yang sebenarnya hilang dari diri kita sebagai masyarakat? Bukan hanya air bersih, tetapi juga identitas, kesehatan, dan keberlanjutan hidup. Diskusi publik seperti yang terjadi di Jombang adalah awal yang baik—tanda bahwa kesadaran mulai tumbuh. Namun, kesadaran harus diikuti dengan aksi kolektif yang konsisten. Mungkin kita bisa mulai dengan hal sederhana: berdiri di tepi sungai terdekat, mendengarkan suaranya, dan bertanya pada diri sendiri, "Apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk membuatnya sedikit lebih sehat?" Karena pemulihan sungai pada hakikatnya adalah pemulihan hubungan kita dengan alam, dan akhirnya, dengan kemanusiaan kita sendiri.

Suka dengan artikel ini?

Bagikan ke teman-temanmu agar mereka juga mendapatkan informasinya!

Share via:
Jombang di Persimpangan: Ketika Sungai Berbicara, Bisakah Kita Mendengarnya? | Kabarify