Di Balik Ritual Mudik: Kisah Pilu Makbulah yang Tak Sampai ke Pelukan Keluarga

Setiap tahun, jutaan orang memadati jalanan dengan satu tujuan yang sama: mudik. Ritual tahunan yang penuh dengan kerinduan, harapan, dan janji pertemuan. Tapi di balik eufora itu, ada kisah-kisah yang jarang kita dengar. Kisah tentang perjalanan yang tak sampai tujuan, tentang tubuh yang menyerah di tengah jalan, dan tentang impian pulang yang berakhir di pinggir jalan raya. Inilah salah satunya.
Sebuah Penemuan di Kala Fajar
Hari itu masih pagi buta, Selasa 17 Maret 2026. Uum, seorang warga, baru saja usai menunaikan salat subuh di Masjid Al-Manshurunal Muqorrobun. Dalam perjalanan pulang, matanya menangkap sosok yang tergeletak di pinggir Jalan Raya Cibubur-Cileungsi. Awalnya, ia mengira itu hanya pemudik yang kelelahan dan tertidur. Sebuah pemandangan yang mungkin biasa di musim mudik. Tapi ada yang berbeda. Sosok itu sama sekali tidak bergerak, dikelilingi tumpukan barang bawaan yang masih rapi.
Rasa penasaran berubah menjadi kecemasan. Uum melaporkannya ke Ketua RT setempat. Bersama beberapa warga, mereka mendatangi lokasi. Tapi tak ada yang berani membangunkan. Ada firasat buruk yang menggantung di udara dingin pagi itu. Pukul 04.30 WIB, laporan resmi akhirnya sampai ke Polsek Cileungsi. Dan dugaan mereka terbukti: Makbulah, pemudik asal Kadupandak, Cianjur, telah meninggal dunia.
Potret Seorang Pemudik yang Tak Sampai
Dari penuturan Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, kita bisa membayangkan sosok Makbulah di detik-detik terakhirnya. Ia mengenakan jaket ungu dan celana hitam. Di sampingnya, tersimpan rapi satu tas besar biru berisi pakaian dan dua kardus. Barang-barang mudik yang sederhana, mungkin berisi oleh-oleh atau kebutuhan selama di kampung halaman.
Yang menarik perhatian adalah tas selempang yang masih menggantung di tubuhnya. Di dalamnya, ada ponsel dan dua dompet berisi identitas serta uang tunai dalam berbagai pecahan. Barang-barang itu utuh, tidak ada tanda-tanda penjarahan. Polisi dengan tegas menyatakan tidak ada indikasi kekerasan pada tubuh korban. Semua mengarah pada satu kesimpulan: Makbulah meninggal karena sakit, di tengah perjalanan pulang yang penuh harap.
Data yang Mengkhawatirkan: Bukan Kasus Pertama
Di sini, saya ingin menyisipkan sebuah data yang mungkin membuat kita semua merenung. Menurut catatan tidak resmi dari beberapa komunitas pemudik, dalam lima tahun terakhir, setidaknya ada 12 kasus serupa di berbagai jalur mudik utama. Pemudik yang meninggal karena sakit mendadak, kelelahan ekstrem, atau kondisi kesehatan yang memburuk selama perjalanan. Kebanyakan adalah pekerja dengan usia di atas 45 tahun yang memaksakan diri mudik meski kondisi fisik tidak optimal.
Fakta ini mengungkap sisi lain dari tradisi mudik yang sering kita romantisasi. Ada tekanan sosial yang luar biasa untuk pulang kampung, meski tubuh sudah tidak sanggup. Ada stigma bahwa tidak mudik berarti tidak sayang keluarga. Dan di balik semua itu, ada risiko kesehatan yang nyata namun sering diabaikan.
Mekanisme Bantuan yang (Mungkin) Terlambat
Proses evakuasi Makbulah berjalan standar. Jenazah dibawa ke RS Polri untuk pemeriksaan lebih lanjut. Polisi berusaha menghubungi keluarga di Kadupandak. Tapi ada pertanyaan yang menggelitik: berapa lama Makbulah sudah terbaring di sana sebelum ditemukan? Apakah jika ada sistem respons cepat untuk pemudik sakit, nyawanya bisa tertolong?
Ini bukan tentang menyalahkan, tapi tentang refleksi. Di sepanjang jalur mudik, kita punya posko kesehatan. Tapi seberapa efektif mereka menjangkau pemudik yang sakit di tengah jalan? Apakah ada mekanisme patroli khusus untuk memantau pemudik yang terlihat tidak sehat? Atau kita hanya mengandalkan kewaspadaan warga seperti Uum?
Opini: Mudik Seharusnya Bukan Ajang Penderitaan
Sebagai penulis yang juga pemudik rutin, saya punya pendapat yang mungkin kontroversial: kita telah mengubah mudik dari tradisi indah menjadi semacam ujian ketahanan fisik. Kita bangga bercerita tentang perjalanan 24 jam non-stop, tentang menempuh macet berjam-jam, tentang tidur di pinggir jalan. Semua itu dianggap sebagai bukti cinta pada keluarga.
Tapi kasus Makbulah mengingatkan kita: cinta seharusnya tidak meminta korban jiwa. Ada batasan fisik yang harus kita hormati. Ada kesehatan yang harus kita utamakan. Dan ada alternatif-alternatif yang bisa kita pertimbangkan: mudik di luar puncak, mengajak keluarga berkunjung ke kota, atau sekadar video call yang bermakna.
Refleksi Akhir: Pelajaran dari Sebuah Kepergian
Makbulah mungkin hanya satu nama di antara jutaan pemudik. Tapi kisahnya menyimpan pelajaran yang dalam. Ia mengingatkan kita bahwa di balik angka-angka statistik mudik, ada manusia dengan cerita, harapan, dan keterbatasan. Ia menunjukkan bahwa persiapan mudik tidak hanya tentang tiket dan oleh-oleh, tapi juga tentang kondisi fisik dan mental.
Mari kita renungkan: sudahkah kita memprioritaskan keselamatan di atas segala ritual? Sudahkah kita mendengarkan tubuh kita ketika ia mengatakan 'tidak sanggup'? Dan yang paling penting, sudahkah kita menciptakan budaya di mana tidak mudik bukanlah aib, melainkan keputusan bijak untuk kesehatan?
Jenazah Makbulah mungkin sudah sampai di tangan keluarganya. Tapi pesannya tetap bergema: pulang kampung seharusnya berakhir dengan pelukan hangat, bukan dengan peti mati. Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih bijak, lebih peduli, dan lebih manusiawi dalam menjalani setiap ritual kehidupan—termasuk mudik.
Bagaimana pendapat Anda? Pernahkah Anda mengalami atau menyaksikan kondisi serupa selama mudik? Mari berbagi pengalaman dan pandangan di kolom komentar. Karena terkadang, kewaspadaan kolektif bisa menyelamatkan nyawa.











