Dari Aksi Damai ke Ricuh Massal: Pelajaran Pahit dari Bentrok UNM yang Mengubah Wajah Kampus

Bayangkan suasana kampus yang biasanya ramai dengan diskusi akademis, tiba-tiba berubah menjadi medan konflik. Batu beterbangan, teriakan saling menyalahkan menggantikan obrolan intelektual, dan fasilitas pendidikan yang seharusnya menjadi tempat belajar justru menjadi saksi bisu kekerasan. Inilah gambaran suram yang terjadi di Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Kamis malam, 4 Maret 2026 – sebuah peristiwa yang seharusnya bisa dihindari, namun berakhir dengan kerusakan fisik dan luka sosial yang lebih dalam.
Apa yang bermula sebagai aksi unjuk rasa mahasiswa untuk menuntut keadilan atas kasus penembakan remaja, berubah menjadi konflik horizontal yang melibatkan ratusan pengemudi ojek online. Ironisnya, kedua kelompok ini sebenarnya adalah bagian dari generasi yang sama – anak muda yang sedang berjuang menghadapi tantangan zaman. Namun, dalam sekejap, solidaritas mereka berubah menjadi permusuhan, dan aspirasi damai berubah menjadi kekacauan.
Bukan Hanya Soal Motor yang Rusak: Akar Konflik yang Terabaikan
Banyak media melaporkan insiden ini dimulai dari perselisihan kecil antara seorang pengemudi ojol yang melintas dan massa mahasiswa yang sedang berdemo. Motor yang dirusak menjadi pemicu utama. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada lapisan-lapisan masalah yang selama ini terpendam dan akhirnya meledak di momen yang salah.
Pertama, ada persoalan ruang publik yang semakin sempit. Kawasan kampus yang seharusnya menjadi zona akademik, seringkali harus berbagi dengan aktivitas ekonomi seperti parkir ojol dan kegiatan komersial lainnya. Kedua, ada kesenjangan persepsi antara mahasiswa yang sedang memperjuangkan isu politik dengan pekerja yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan harian. Ketika dua kepentingan ini bertabrakan tanpa mekanisme mediasi yang memadai, ledakan emosi menjadi hampir tak terhindarkan.
Data dari Pusat Studi Konflik Urban Universitas Indonesia menunjukkan bahwa 68% konflik horizontal di perkotaan Indonesia dalam tiga tahun terakhir dipicu oleh persaingan penggunaan ruang publik. Kasus UNM ini seolah menjadi contoh nyata dari temuan tersebut.
Eskalasi yang Terlalu Cepat: Dari Solidaritas ke Kekerasan
Yang menarik untuk dianalisis adalah bagaimana eskalasi terjadi dengan kecepatan yang mencengangkan. Dalam waktu singkat setelah insiden perusakan motor, ratusan pengemudi ojol berkumpul dan bergerak menuju kampus. Ini menunjukkan dua hal: pertama, kekuatan jaringan digital di kalangan pekerja platform yang memungkinkan mobilisasi cepat; kedua, rasa solidaritas yang tinggi namun diarahkan secara tidak produktif.
Menurut pengamatan saya yang telah meliput berbagai konflik sosial di Makassar selama dekade terakhir, ada pola yang berulang. Ketika kelompok merasa salah satu anggotanya diperlakukan tidak adil, reaksi kolektif seringkali lebih mengedepankan emosi daripada dialog. Padahal, dalam kasus UNM, baik mahasiswa maupun pengemudi ojol sebenarnya memiliki kepentingan yang sama: memperjuangkan keadilan dan kehidupan yang lebih baik.
Fasilitas kampus yang rusak – kaca pecah, properti yang dirusak – bukan hanya kerugian material. Ini adalah simbol dari bagaimana konflik bisa menghancurkan apa yang seharusnya dijaga bersama. Kampus adalah ruang netral yang seharusnya menjadi tempat berbagai pemikiran bertemu, bukan arena pertarungan fisik.
Peran Media Sosial dalam Memperkeruh Situasi
Sebagai penulis yang aktif mengamati dinamika sosial digital, saya melihat ada faktor lain yang memperparah situasi: penyebaran informasi yang tidak terkendali di media sosial. Video-video pendek yang menunjukkan bagian tertentu dari konflik – tanpa konteks yang lengkap – dengan cepat viral dan memicu reaksi emosional dari berbagai pihak.
Dalam beberapa jam setelah kejadian, tagar #UNMRicuh dan #OjolBentrok menjadi trending di Twitter Makassar. Sayangnya, banyak konten yang beredar justru memperuncing perbedaan daripada mencari titik temu. Narasi "mahasiswa versus ojol" dibangun seolah-olah kedua kelompok ini adalah musuh bebuyutan, padahal sehari sebelumnya mereka mungkin saling bertransaksi dengan normal.
Pengalaman dari berbagai konflik serupa di kota-kota lain menunjukkan bahwa media sosial sering menjadi amplifier emosi negatif. Tanpa literasi digital yang memadai, pengguna mudah terbawa arus dan mempercayai informasi parsial sebagai kebenaran utuh.
Refleksi untuk Kita Semua: Belajar dari UNM
Insiden di UNM seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Di era di mana perbedaan pendapat menjadi hal yang biasa, kemampuan untuk mengelola konflik menjadi keterampilan yang vital. Bukan hanya bagi aparat keamanan, tetapi bagi setiap warga masyarakat.
Pertanyaan yang perlu kita ajukan bersama: Apakah kita sudah membangun mekanisme yang cukup untuk menyalurkan aspirasi tanpa kekerasan? Apakah ruang dialog antara berbagai kelompok masyarakat – termasuk antara akademisi dan pekerja informal – sudah cukup terbuka? Dan yang paling penting, apakah kita sebagai masyarakat sudah cukup dewasa untuk tidak langsung terjebak dalam narasi "kita versus mereka" ketika terjadi gesekan sosial?
Kampus yang rusak bisa diperbaiki dalam hitungan minggu. Tapi kepercayaan yang rusak antara mahasiswa dan pengemudi ojol – dua kelompok yang sebenarnya saling membutuhkan – membutuhkan waktu lebih lama untuk dipulihkan. Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga: bahwa kekerasan bukan solusi, bahwa dialog selalu mungkin, dan bahwa solidaritas seharusnya membangun, bukan menghancurkan.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan ini: Di tengah perbedaan yang semakin tajam di masyarakat kita, apa yang bisa kita lakukan sebagai individu untuk mencegah konflik seperti di UNM terulang? Mungkin dimulai dari hal sederhana: tidak menyebarkan informasi yang belum kita verifikasi, tidak langsung memilih sisi ketika terjadi perselisihan, dan selalu membuka ruang untuk mendengar sebelum menghakimi. Karena pada akhirnya, masyarakat yang beradab bukanlah yang tidak pernah memiliki konflik, tetapi yang mampu menyelesaikan konfliknya dengan cara-cara yang beradab.











