Analisis Mendalam: Mengapa Kepemimpinan Global Gagal Menjaga Perdamaian Menurut Presiden Prabowo

Krisis Kepemimpinan Global: Saat Dunia Kehilangan Arah
Bayangkan sebuah peta dunia yang dipenuhi titik-titik merah. Setiap titik mewakili konflik, ketegangan, atau krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung. Dari Ukraina hingga Gaza, dari Laut China Selatan hingga Sudan, dunia kita saat ini lebih menyerupai bubuk mesiu yang siap meledak kapan saja. Inilah realitas yang diungkapkan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada peringatan Nuzulul Qur'an di Istana Negara, sebuah pernyataan yang bukan sekadar retorika politik, melainkan diagnosis tajam terhadap kondisi geopolitik global yang semakin rapuh.
Yang menarik dari pernyataan Prabowo bukan hanya pengakuan tentang dunia yang 'penuh bahaya dan ketidakpastian', tetapi penekanan spesifik pada kegagalan kepemimpinan global. Dia menyoroti sebuah paradoks modern: di era dengan teknologi dan sumber daya paling maju dalam sejarah manusia, justru kemampuan untuk menjaga perdamaian dasar semakin berkurang. Ini mengingatkan kita pada teori 'The Great Unraveling' yang dipopulerkan beberapa analis geopolitik, di mana tatanan dunia pasca-Perang Dingin perlahan-lahan terurai tanpa adanya kerangka pengganti yang koheren.
Mengurai Benang Kusut Konflik Kontemporer
Jika kita telusuri lebih dalam, kegagalan yang disebut Prabowo memiliki akar yang kompleks. Data dari Uppsala Conflict Data Program menunjukkan peningkatan 28% dalam konflik berskala besar sejak 2010. Yang lebih mengkhawatirkan, konflik-konflik ini semakin sulit diselesaikan karena melibatkan banyak aktor dengan kepentingan yang saling bertautan. Ambil contoh konflik di Timur Tengah yang tidak lagi sekadar perseteruan regional, tetapi telah menjadi ajang proxy war bagi kekuatan global.
Menurut analisis Institute for Economics and Peace, indeks perdamaian global telah menurun selama sembilan dari sepuluh tahun terakhir. Tren ini menunjukkan pola yang sistematis, bukan fluktuasi temporer. Ketika Prabowo berbicara tentang 'pemimpin dengan kekuatan besar', dia merujuk pada negara-negara yang seharusnya menjadi penjaga stabilitas sistem internasional. Namun, bukannya meredakan ketegangan, beberapa justru terlibat dalam persaingan yang semakin panas, mengorbankan kepentingan perdamaian global untuk keuntungan strategis jangka pendek.
Perspektif Unik: Multilateralisme di Ambang Kehancuran?
Di sini saya ingin menyampaikan opini yang mungkin kontroversial: krisis yang kita saksikan bukan hanya kegagalan individu pemimpin, tetapi kegagalan sistem multilateral yang dibangun pasca-Perang Dunia II. Lembaga-lembaga seperti PBB, yang dirancang untuk mencegah perang, justru sering kali lumpuh oleh veto dan kepentingan nasional yang sempit. Sebuah studi dari Brookings Institution menemukan bahwa efektivitas Dewan Keamanan PBN dalam mencegah konflik telah turun hingga 40% dalam dua dekade terakhir.
Poin penting yang sering terlewatkan dalam diskusi tentang perdamaian global adalah perubahan sifat konflik itu sendiri. Perang konvensional antarnegara telah sebagian digantikan oleh perang hibrida, cyber warfare, dan konflik asimetris. Pemimpin dunia masih berpikir dengan paradigma lama, sementara ancaman telah berevolusi. Ketika Prabowo menekankan pentingnya 'tekad dan komitmen yang jelas', dia mungkin sedang mengisyaratkan kebutuhan akan pendekatan baru yang lebih adaptif terhadap realitas kontemporer.
Indonesia dalam Pusaran Geopolitik: Bukan Penonton Pasif
Pernyataan Prabowo tentang perlunya Indonesia 'menggalang persatuan dan kerukunan' harus dibaca sebagai strategi, bukan sekadar pesan moral. Dalam peta geopolitik yang berubah, Indonesia memiliki posisi unik. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, ekonomi terbesar di ASEAN, dan tradisi diplomasi aktif, Indonesia bisa menjadi 'penyeimbang' di kawasan yang semakin dipengaruhi persaingan AS-China.
Data menarik dari Lowy Institute's Asia Power Index menunjukkan bahwa pengaruh Indonesia di kawasan telah meningkat 15% dalam lima tahun terakhir, terutama dalam diplomasi ekonomi dan budaya. Ini adalah modal yang berharga. Ketika Prabowo berjanji melindungi 'seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang ras, suku, dan agama', dia tidak hanya berbicara tentang kebijakan domestik, tetapi juga menyampaikan pesan kepada dunia tentang model masyarakat yang inklusif—sebuah kontras tajam dengan meningkatnya polarisasi dan populisme di banyak negara.
Membangun Ketahanan di Tengah Badai Global
Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari pidato ini? Pertama, pengakuan jujur tentang kondisi dunia adalah langkah awal yang penting. Kedua, fokus pada persatuan nasional bukanlah retret ke dalam isolasionisme, melainkan strategi untuk membangun ketahanan internal sebelum terlibat lebih aktif dalam diplomasi global. Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang rapuh secara internal jarang bisa menjadi penjaga perdamaian yang efektif di tingkat internasional.
Sebuah insight yang patut direnungkan: dalam laporan Global Risks Report 2025 dari World Economic Forum, 'erosi kohesi sosial' dan 'konflik antarnegara' masuk dalam lima risiko teratas. Keduanya saling terkait—masyarakat yang terpecah belah cenderung memilih pemimpin yang lebih agresif dalam kebijakan luar negeri. Dengan menekankan kerukunan nasional, Prabowo mungkin sedang membangun fondasi untuk peran Indonesia yang lebih konstruktif di panggung dunia.
Refleksi Akhir: Dari Diagnosis Menuju Aksi
Mendengarkan pidato Prabowo, saya teringat pada pepatah Tiongkok kuno: 'Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan'. Kritik terhadap kegagalan kepemimpinan global adalah bagian pertama—mengutuk kegelapan. Bagian kedua, yang lebih penting, adalah menyalakan lilin. Dan lilin itu, menurut Presiden kita, dimulai dari kemampuan bangsa Indonesia menjaga persatuan dan menjadi contoh kerukunan.
Pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri bukan hanya 'seberapa buruk kondisi dunia?', tetapi 'apa yang bisa kita kontribusikan dari posisi kita masing-masing?'. Sebagai warga negara, akademisi, pengusaha, atau aktivis—setiap kita memiliki peran dalam membangun ketahanan nasional yang menjadi prasyarat perdamaian global. Mungkin inilah makna terdalam dari pesan Nuzulul Qur'an yang dikaitkan dengan pidato ini: bahwa perubahan selalu dimulai dari dalam, sebelum memancar ke luar.
Pada akhirnya, dunia mungkin memang penuh bahaya dan ketidakpastian seperti yang dikatakan Prabowo. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa periode krisis sering kali melahirkan terobosan-terobosan baru dalam tata kelola global. Apakah kita akan menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi? Jawabannya tidak hanya ada di Istana Negara, tetapi dalam setiap keputusan kecil kita untuk membangun jembatan, bukan tembok; untuk memahami, bukan menghakimi; untuk bersatu, bukan terpecah. Dan itu dimulai dari hal yang paling dasar: bagaimana kita memperlakukan sesama anak bangsa di sekitar kita setiap hari.











